Mengenal Lebih Dekat Rinitis Alergi

FAQ

Bagaimana mengedukasi pasien asma yang pemicunya awalnya adalah alergi?
  • Hal pertama yang dilakukan adalah edukasi untuk tatalaksana non-farmakologinya, seperti memahami faktor pemicu alergi dan asmanya. Perlu dilakukan identifikasi kemudian jika sudah diketahui faktor pemicunya maka harus dihindari.
  • Kedua perlu dilakukan penggalian mendalam untuk mengetahui kategori asma pada pasiennya termasuk kategori mana, ringan, sedang, ataupun berat karena terkadang seringkali terdapat mispersepsi untuk kategori ini oleh pasien, maka perlu disesuaikan dengan penilaian dari poin-poin kategori asma itu sendiri.
  • Terakhir yaitu cek untuk cara pemakaian inhalernya apakah sudah tepat. Selain itu penggunaan kombinasi SABA dan kortikosteroid untuk mengatasi peradangan saat terjadi asma juga perlu diperhatikan.
  • Nah untuk kekambuhan rinitis alergi yang menyebabkan asma, maka perlu dilakukan intervensi dengan penggunaan antihistamin.
Bagaimana keamanan penggunaan terapi rinitis alergi pada ibu hamil, menyusui dan anak-anak?
  • Pemberian pada ibu hamil yang mengalami rinitis alergi atau alergi sebaiknya tidak dilakukan swamedikasi. swamedikasi hanya dapat dilakukan pada pasien yang mengalami keluhan ringan atau sedang. untuk pasien dengan populasi khusus seperti yang disampaikan tadi maka perlu kolaborasi dengan dokter.
  • Jika untuk anak-anak misalnya biasanya tergolong ringan dapat diberikan obat antihistamin seperti fexofenadine dan tentunya menghindari penyebab atau pemicu alerginya, misal makanan atau minuman yang mengandung laktosa.
Apakah Fexofenadine boleh diberikan bersamaan dengan kondisi asma?

Jika berbicara mengenai asma, maka fexofenadine tidak dapat diberikan untuk mengatasi asmanya. Namun fexofenadine dapat diberikan untuk mengatasi rinitis alergi yang menjadi penyebab asma, dikarenakan sebagian besar orang mengalami asma, memiliki riwayat rinitis alergi. Perlu di Highlight Fexofenadine mengatasi rinitis alergi yang memperburuk kondisi asma, bukan untuk meredakan asmanya, dimana jika efek alergennya teratasi maka asmanya dapat mereda.

Apakah pasien dengan penyakit komorbid seperti diabetes dan ginjal aman untuk penggunaan fexofenadine aman atau ada rekomendasi penggunaan antihistamin tertentu?
  • Berdasarkan beberapa studi namun tidak banyak, penggunaan bersamaan obat-obatan antihistamin ini diperhatikan jika dikonsumsi bersamaan dengan antidepresan, obat untuk epilepsi, antihipertensi dan terakhir antibiotika, namun tidak semua golongan antibiotika.
  • Contoh misal penggunaan bersamaan dengan obat antihipertensi, dimana untuk antihistamin generasi pertama memiliki efek samping hipotensi, hal ini menjadi salah satu yang perlu diperhatikan, namun untuk generasi kedua atau fexofenadine ini tidak memiliki efek samping sebesar generasi pertama.
Seberapa banyak dan sering fexofenadine dapat dikonsumsi?
  • Frekuensi pemberian Fexofenadine sendiri tergantung dari gejala alergi dan dosisnya, untuk dosis 60 mg dapat diberikan 2 kali sehari saat mengalami alergi, atau untuk alergi dengan kondisi tertentu misal terdapat urtikaria, maka bisa menggunakan dosis yang 180 mg untuk 1 kali sehari.
  • Fexofenadine untuk swamedikasi biasanya dapat diberikan pemakaian 7 hari, namun jika gejalanya tidak mereda atau membaik maka sebaiknya dianjurkan ke dokter. Untuk beberapa pasien yang sudah konsultasi ke dokter juga sangat memungkinkan penggunaan fexofenadine jangka panjang. Hal ini juga didukung oleh hasil studi yang telah dilakukan dimana menunjukkan bahwa fexofenadine aman untuk penggunaan jangka panjang yaitu 6 sampai dengan 12 bulan.